Dialog antara Natsuki Ikezawa dan Yuichi Kinoshita “Berhadapan dengan karya klasik – Sastra dan Teater -”

[Babak Kedua] Ikezawa:Saya mau coba membuat koleksi lengkap untuk mempelajari orang-orang macam apakah orang Jepang itu?

Kinoshita: Apakah bisa minta penjelasan langsung mengenai Koleksi Lengkap Karya Sastra Jepang?

Ikezawa: Sejak beberapa tahun yang lalu saya mengedit kumpulan karya berjudul sangat besar Koleksi Lengkap Karya Sastra Jepang. Pekerjaan seperti ini jika tidak hati-hati bisa membawa dampak nasib perusahan penerbitan jadi kami memberanikan diri untuk mengambil keputusan.

Yang disebut kumpulan karya sastra itu dulu banyak terbit. Sejak awal zaman Showa (1926) hingga tahun 80 an ini merupakan kotak dolar bagi penerbit. Kecuali selama perang, ini terus menerus terbit. Penerbit yang pertama memikirkannya adalah sebuah perusahaan penerbitan yang disebut Kaizousha, yang ketika itu berada dalam krisis manajemen yang mencoba mempertaruhkan nasib hidup matinya perusahaan. Awalnya diumumkan isi seluruh jilid. Bukunya diterbitkan bulanan. Lalu disediakan hadiah bagi mereka yang memesan sampai jilid akhir. Dengan cara seperti itu, gebrakan ini mengenai sasarannya. Dengan begitu, penerbit lain pun tidak tinggal diam, tak lama kemudian Shinchosha juga melakukannya, itu pun terjual dengan baik. Perusahaan penerbitan di sana sini semua mengikutinya, dan pasti terjual.

Saya mencoba memikirkan sebabnya. Sekitar akhir zaman Taisho (1926) adalah saat ketika budayaisme Jepang sangat solid. Asalnya memang orang Jepang suka membaca buku. Orang Asing yang datang ke Jepang pada zaman Edo (1603-1868) terkejut “Baru pertama lihat orang-orang yang membaca buku demikian banyak. Setiap ada waktu kosong dikeluarkan buku tipis dari balik bajunya dan membacanya. Tradisi itu telah diwarisi turun temurun. Setelah zaman Meiji (1912) sastra barat mulai masuk. Mereka juga mempelajarinya, menguasai teknik untuk menulis novel ala barat, lalu banyak menulisnya. Ketika hasil usaha semacam itu cukup banyak pada akhir zaman Taisho, semua dikumpulkan untuk bisa dibaca sekaligus. Itulah awal terjadinya koleksi sastra.

Di sisi lain, orang Jepang suka yang sudah set. Seperti makanan Makunochi Bento atau nasi bekal yang terdiri dari berbagai makanan, dan Ohinasama atau satu set boneka yang dipajang pada waktu perayaan bunga persik, jika disebut bahwa semuanya tersedia jadi satu semua orang menginginkannya. Lebih menguntungkan daripada mengeluarkannya satu per satu. Ini adalah strategi pemasaran.

Tren ini berakhir pada tahun 1980an. Budayaisme sudah tidak lagi terlalu diagungkan. Tak perlulah demikian rupa belajar, jika menarik dibaca dan dibuang dan mari beli lagi buku berikutnya. Dengan kata lain, buku telah berubah dari bahan pelajaran menjadi barang konsumsi. Setelah itu, kira-kira tahun 2005, saya diajak oleh seorang teman editor di Kawade Shobo Shinsha, “Pak Ikezawa mau tidak membuat Koleksi Lengkap Karya Sastra Dunia”? Pada saat itu saya katakan “Bukan tren lagi. Sudah kuno. Lagi pula begitu diterbitkan daftar publikasi, semua akan membeli buku saku saja”. Tetapi editor muda tersebut sangat antusias, sehingga saya memikirkan kemungkinan ada cara lain yang tepat. Lalu, kalau begitu lebih baik berbeda dengan kumpulan sastra dunia yang sudah ada, jadi pertama-tama saya membuang semua karya klasik.

Karya yang tercantum sebagian besar karya setelah perang dunia kedua, dan sedikit dicampur dengan karya awal abad ke-20. Mengapa begitu karena setelah perang dunia kedua telah berakhir, dunia telah berubah dengan drastis. Koloni-koloni waktu perang merdeka satu demi satu, dan para wanita menjadi lebih kuat. Dan semua orang di dunia mulai bergerak pindah kerap kali. Bisakah kita mengikuti jejak transformasi dunia dari akhir perang sampai 11 September tahun 2001 dengan sastra? Itu adalah kebijakan tersembunyi. Hasilnya, lumayan bagus, walau jika dibanding keberhasilan di masa lalu hanya sekitar 10% tapi bisa diterbitkan sampai jilid terakhir.

Lalu, untuk sementara selesai, tetapi beberapa saat kemudian presiden Kawade yang merasa puas mengajak, “Pak Ikezawa, mari kita buat juga Koleksi Lengkap Karya Sastra Jepang. Saya jawab “Anda terlalu anggap enteng”. Mengenai Koleksi Lengkap Sastra Dunia karena pada dasarnya saya adalah seorang pembedah buku, selama beberapa dekade ini saya membaca hampir semua literatur terjemahan sehingga saya bisa membuat daftar konten dengan memilih yang bagus dari sana. Tapi saya tidak tahu apa-apa tentang sastra Jepang. Benar-benar tidak tahu. Jadi saya menjawab “Tidak mungkin”, dan pembicaraan berakhir di situ. Dan jilid terakhir dari Koleksi Lengkap Karya Sastra Dunia keluar pada tanggal 10 Maret 2011. Keesokan harinya ada Gempa Bumi Besar Jepang Timur. Setelah itu, saya bolak-balik terus ke wilayah Tohoku.

Saya pulang pergi ke wilayah Tohoku berkali-kali, mendengarkan cerita orang-orang, membuat laporan, semua berlangsung selama 1 atau 2 tahun. Pada waktu itu saya berpikir mengapa hal yang menyedihkan semacam ini terjadi. Negara ini sedang kesusahan. Gempa terjadi, tsunami datang, gunung meledak. Itupun seperti belum cukup disusul datangnya topan. Kita bukannya karena suka maka tinggal di tanah ini. Namun, pada akhirnya kita telah tinggal di sini selama puluhan ribu tahun. Tempat yang lumayan bagus, setiap musimnya indah dan cukup subur, ada saatnya hujan ada juga saatnya cerah, dan padi pun bisa dipanen. Di negara kepulauan ini masyarakatnya juga mudah distabilkan karena setengah tertutup secara geografis. Sungguh ajaib, sampai tahun 1945 tidak pernah dijajah suku asing. Negara seperti ini, tidak ada di tempat lain. Musuh akan datang jika daratannya bersambung. Berkat adanya laut, tentara sulit menyeberanginya.

Jepang itu negara seperti itu, dan dengan mempergunakan bahasa Jepang telah melahirkan sastra selama 1300 tahun. Ketika saya berpikir begitu, saya jadi ingin meninjau kembali pertanyaan “Siapakah orang Jepang itu sebenarnya?”.

Selama ini, saya memandang sesuatu yang dari luar. Untuk sastra pun saya membaca karya luar negeri, saya bepergian dan tinggal beberapa lama di luar negeri. Bagi saya, Jepang adalah tempat melaporkan apa yang saya lihat dan yang saya dengar di luar. Dalam hal ini saya benar-benar orang Jepang. Patriot, hahaha. Namun, karena saya tidak begitu tertarik dengan Jepang sendiri, saya belum banyak membaca sastra Jepang. Waktu saya memikirkan hal itu, Presiden Wakamori dari Kawade bertanya lagi, “Jadi Koleksi Lengkap Karya Sastra Jepang tidak mungkin?” Lalu, agar bisa mempelajari seperti apa orang Jepang itu? saya akan membuatnya, dengan pikiran itu saya langsung jawab “Baik”. Tidak bertanggung jawab ya. Karena saya belum pernah membaca Genji Monogatari sampai akhir. Ada banyak contoh seperti itu. Berbicara tentang isi Koleksi Lengkap Karya Sastra Jepang yang sudah ada, hampir semua karya setelah era Meiji. Karya sebelum era Meiji dibedakan dengan menambahkan kata “klasik”. Tetapi karena ini adalah teori orang Jepang, tidak ada gunanya tanpa memulai dari awal sampai sekarang. Jadi, saya memutuskan untuk memasukkan banyak karya klasik.

Dengan begitu saya rasa saya membuat gagasan yang sama dengan pak Kinoshita, bagaimana cara membaca karya klasik dan bagaimana cara menyampaikannya. Mau mencoba untuk memodernisasikannya. Seorang penulis terkemuka bernama Yukio Mishima itu mengatakan “Menerjemahkan karya klasik dengan bahasa modern adalah sebuah fitnah”. Baginya karya klasik mungkin adalah seorang dewi atau bidadari, saya rasa dia menyembahnya sepanjang hari. Karena akar saya bersifat duniawi, jadi saya ingin menarik tangan sang bidadari untuk hidup bersama. Untuk itu dari pada kostum yang berkibar-kibar yang tidak cocok untuk hidup sehari-hari bagaimanana kalau diganti dengan jeans dan sweater? Demikian. Saya bermaksud menerjemahkannya menjadi bahasa modern dengan cara seperti itu. Karena ini adalah bacaan, bukan pelajaran. Karena itu adalah sastra klasik dan bukan bahasa klasik.

Kami memutuskan kebijakan, kemudian menetapkan daftar isi sambil berkonsultasi dengan redaksi, selanjutnya yang sulit. Siapa yang akan menerjemahkan? Apakah ada yang menerima pekerjaan semacam ini? Dengan takut-takut mulai membuka jalan menanyakannya, ternyata tanggapannya cukup responsif. Kebanyakan dari mereka menjawab dua suku kata “mau”. Di antaranya ada yang menanyakannya “Lalu apa yang akan diterjemahkan pak Ikezawa?”. Dan ketika saya jawab bahwa karena saya adalah seorang komandan, saya mengatur strategi dan langkah dari belakang, mereka mengatakan “Tidak boleh seperti itu. Komandan harus ikut berperang di baris depan. Kalau tidak tentara tidak akan mengikuti”. Apa boleh buat akhirnya saya memilih Kojiki yang kelihatan paling mudah. Demikianlah kira-kira.