Dialog ” Berhadapan dengan kesenian tradisional Kabuki dan Wayang”

Dalam proyek “Kekuatan Tradisi, Bentuk Kesenian”, kami mengadakan dialog dengan anggota untuk berpikir lebih mendalam tentang apa arti tradisi bagi kita, bentuk kebutuhan untuk memodernisasikan tradisi serta makna dan peran yang dibawanya. Di antara anggota proyek ini, ada dua ahli yang masing-masing mencintai kesenian tradisional Jepang dan Indonesia dari lubuk hatinya. Yuichi Kinoshita yang memimpin “Kinoshita Kabuki” untuk mengeksplorasi kemungkinan melakukan pertunjukan kabuki pada jaman modern, dan Yu Endo, seorang peneliti wayang kulit yang terkenal sebagai kesenian tradisional Jawa, keduanya akan menjadi fokus dalam kegiatan mengali tiga tema utama di sini.

Tema pertama adalah, mengapa boleh disebut sebagai kabuki / wayang? Tema kedua, mengenai perbedaan antara masing-masing arti dari “kesenian klasik,” dan “kesenian tradisional”. Dan yang ketiga adalah, apa itu memodernisasikan kesenian tradisional? Dengan bertujuan untuk mendapatkan pemahaman yang lebih mendalam secara teratur bertukar pendapat mengenai proposal yang bisa dianggap dalam beberapa hal cukup mendalam ini. Mari kita mulai berdialog sambil berharap seiring dengan kemajuan proyek, kekuatan tradisi bisa lebih diakui sebagai dasar pemikiran dalam memikirkan tentang bentuk kesenian tradisional.

Moderator: Takashi Sonoda
Waktu: 1 Agustus, 2016
Tempat: The Japan Foundation

[Pertanyaan 1] Mengapa disebut sebagai kabuki / wayang?

Kinoshita: Apa itu kabuki ya? Ini adalah pertanyaan yang paling sulit untuk dijawab, dan juga merupakan tanda tanya dalam diri saya.

Endo: Sangat sulit juga untuk menjawab mengapa disebut wayang kulit (selanjutnya disebut wayang)

— Hmmm….baiklah pindah ke pertanyaan berikutnya.

Dua-duanya: Eeh!? (Tertawa)

— Jadi ini, bukan pertanyaan yang diajukan pada awal! Terlalu sulit. Terlalu ekstrim.

Endo: Tetapi tanpa [pertanyaan 1] ini proyek ini tidak bisa dimulai.

−− Pak Endo memang begitu tetapi…..

Endo: Ini tidak bisa ditawar.

Kinoshita: Tidak,tidak,tidak (tertawa) tetapi karena sulit ada gunanya untuk dipikirkan ya. Kalau boleh saya katakan jawabannya tidak hanya satu, sebenarnya jawabannya ada atau tidak pun tidak diketahui. Memikirkan dan mencoba untuk menemukan hal itu sendiri sudah sangat menyenangkan.

Endo: Pada dasarnya ada keraguan menerjemahkan wayang menjadi “drama bayangan”
Ada berbagai teori dalam terbentuknya wayang, tetapi dari awal kelahiran sampai menggunakan bayangan tidak begitu jelas. Dan akhir-akhir ini pada pertunjukan wayang banyak penonton yang menyaksikan petunjukan itu bukan dari bagian sisi “bayangan”.

Kinoshita: Oh!

— (….lihat apa ya?)

Endo: Dari belakang panggung di mana dalang (pemain boneka) dan  para pemain gamelan duduk, menonton pertunjukan dari balik punggung dalang. Artinya, kita melihat boneka itu sendiri bukan bayangannya. Dari etimologi itu adalah “wayang = bayangan”, tapi cerita ini tidak sesederhana itu.

Kinoshita: Etimologi ya, kalau begitu saya juga dari situ. Kabuki itu berasal dari kata miring (kabuku). Di zaman modern jika ada fashion aneh atau orang yang mengekspresikan pendapat yang tajam “Orang itu miring ya”, tetapi ini agak berbeda artinya pada jaman periode Edo. Ketika hal itu diterapkan pada jaman sekarang, saya pikir lebih bersifat mengkritik waktu melihat hal-hal yang ada semangat memberontaknya. Yang sebagai penampakannya, seperti pada mode yang aneh dan perilaku runcing. Jadi pada tahap ini saya berpikir bahwa itu cocok untuk diterjemahkan sebagai “miring = kritik”.

Endo: Jadi kabuki itu “mengkritik sesuatu”?

Kinoshita: Bukan. Itu juga bukan. Itu yang kehilangan konteks tradisi. Dalam kabuki, keseimbangan antara kritik dan hiburan itu sangat tipis, sehingga sering terjadi adegan di mana keduanya tercampur bersama-sama. Jadi, ketika saya menonton teater kontemporer dan menemukan karya entertainment yang kritis, saya sering merasa bahwa “Oh, inilah kabuki itu ya.”

Dengan memikirkan apa itu kabuki, berarti “memahami diri saya sendiri saat ini”

Endo: Apakah bentuk / gaya tidak banyak terkait dengan esensi kabuki?

Kinoshita: Sebagai contoh, ada lakon yang mengarahkan “seorang aktor secara sekejap beralih ke peran lain” Ini adalah kejutan sederhana yang dirubah sesaat, sebagai elemen entertainment, fakta bahwa seorang aktor melakukan peran yang sama sekali berbeda itu sendiri adalah sebuah kritik. Ketika peran baik dan jahat dimainkan oleh seorang aktor yang sama, atau satu orang merangkap berbagai peran, dia melangkah ke wilayah “apa itu manusia?” “apa itu individu?”

Endo: O begitu!

Kinoshita: Panggung-berputar juga dinamis dan merupakan entertainment yang spektakuler, satu kota bisa ada di panggung dan dilihat dari atas yang berarti tindakan seperti ini juga mengarah ke kritik. Karena dengan berputarnya pangung-berputar itu berarti sudut pandang pun berubah. Oleh karena itu, termasuk kecanggihan teknik panggung ada “keseimbangan entertainment dan kritik”.

Endo: Hal yang sangat menarik bahwa ada sisi hiburan dan kritik yang seimbang pada akarnya, dan dari situ bermunculan bentuk dan teknik.Wayang juga pasti memiliki sisi hiburan dan kritik. Tetapi tradisi kabuki dan tradisi wayang sepertinya sama sekali berbeda. Dalam pertunjukan wayang, dalang mengontrol segala sesuatu dan hampir semua pekerjaan dalam pertunjukan digerakkan oleh tangan Dalang ini. Jadi ketika menyoroti kembali sejarah wayang, banyak yang mengatakan misalnya “dalang itu sangat mengagumkan!”, yaitu lebih umum untuk membicarakan tentang kompetensi individu daripada konteks tradisionalnya. Selain itu, cara mempertunjukkan wayang juga sangat beragam, bahkan yang lebih ekstrim ada yang melakukannya dengan tidak menggunakan layar dan boneka wayang.

−− (wayang, terlalu bebas)

Endo: Sebagai seorang peneliti orang asing, setiap kali saya melihat wayang dalam berbagai bentuk, saya terus berpikir “Apa itu wayang?”, “Apa seharusnya definisi wayang?” Dari situ saya mulai perjalanan saya mencari arti wayang. Untuk memikirkan hal itu harus berpikir dari berbagai sudut pandang seperti latar belakang sejarah, sosial, agama dan budaya. Namun begitu, jika mau menyatakan salah satu sudut pandang di tempat ini, saya pikir itu tak lain adalah “persepsi wayang (bayangan)”. Karena secara fisik boneka yang dikenai sinar menghasilkan bayangan sehingga disebut wayang? Atau mungkin mengandung makna yang lebih abstrak? Saya berpikir bahwa esensi teater Asia adalah dalam pengalaman ruang dan waktu, tetapi penonton akan memproyeksikan berbagai “makna” untuk yang dipertunjukkan di sana. Dengan memfokuskan ke situ, saya merasa dapat sedikit lebih dekat ke esensi wayang.

−− (wah, pak Endo keren)

Kinoshita: Kalau ditanya “apakah kabuki dan wayang ada kesamaannya?” jawabnya tidak satu, saya pikir itu tidak lain proyeksi diri dari “apa yang saya sendiri ketahui dari karya klasik? apa yang menarik perhatian diri saya sendiri? ” Jadi bagi saya untuk berpikir, apa itu kabuki, adalah identik dengan “mengetahui diri sendiri.”.

−− Jika demikian, sebelum melakukan perjalanan ke Indonesia dan sesudah perjalanan kemungkinan besar isi “saat ini” akan berubah drastis ya.

Endo: Saya pikir itu akan selalu berubah selama dalam perjalanan.

Kinoshita: Ya betul. Wah… saya tunggu kabar baik…

[Pertaranyaan 2] Mengenai arti dan penulisan dari “kesenian klasik,” dan “kesenian tradisional”

Endo: Dalam kesenian Indonesia, tidak terlalu banyak menggunakan kata “kesenian klasik”. Mungkin lebih tepat untuk mengatakan bahwa itu tidak jelas pembagiannya. Secara umum, jika ada sesuatu yang disebut “klasik” di seluruh Asia Tenggara, saya rasa itu adalah dua epik besar dari India yaitu Mahabharata dan Ramayana.

Kinoshita: Saya pikir Mahabharata awalnya bukan berupa buku, apakah ada perbedaan seperti “buku adalah klasik” dan “pertunjukan seni adalah kesenian tradisional”?

Endo: Saya rasa perbedaan seperti itu tidak ada.

Kinoshita: Apa bahasa Indonesianya “koten” dan “dento“?

Endo: sepertinya “koten” itu klasik, “dento” itu tradisional.  Wayang itu dibedakan antara wayang yang dilindungi dan dikembangkan melalui kraton dan wayang yang menyebar diantara rakyat biasa, untuk wayang yang disebut lebih dulu kadang-kadang disebut “wayang klasik”, tetapi secara umum disebut tradisional.

−− Apa perbedaan antara wayang rakyat biasa dan wayang kraton?

Endo: Karena kraton tidak begitu menyukai perubahan, ada kecenderungan untuk membuat wayang indah di dalam norma-norma. Di sisi lain, wayang kalangan rakyat jika tidak membuat takjub penonton, mereka akan kehilangan kesempatan untuk mempertunjukkan lakon lainnya, sehingga ada kecenderungan untuk terus berubah dan meningkatkan segi hiburannya.

Kinoshita: Di Jepang, selain ada kata-kata “kesenian klasik” dan “kesenian tradisional” ada lagi “kesenian rakyat” dan “kesenian daerah”, yang mungkin lebih membingungkan. Meskipun demikian, tidak setiap kata dapat digunakan dengan cara yang sama, misalnya, kagura disebut sebagai kesenian klasik tetapi kesenian daerah.

Namun, saya tidak ada keinginan untuk benar-benar mengklasifikasikannya. Saat menulis naskah, saya berhati-hati untuk menuliskannya sebagai “kesenian klasik” atau “kesenian tradisional”, tetapi meskipun ada perbedaan yang jelas antara keduanya, daripada terjebak dalam salah satu metode klasifikasi, bagi saya sekarang ini lebih menyenangkan untuk terus memikirkannya.

−−(Hmm pak Kinoshita pandai menyimpulkan?)

Kinoshita: Tapi, kalau itu tidak menjawab pertanyaan … … Di dalam diri saya, imagenya adalah “klasik = titik, tradisi = garis”. Klasik adalah titik yang berbeda dari diri saya sendiri dan itu adalah seperti “sumber” bagi saya. Tetapi karena tradisi adalah garis, saya sendiri sekarang ini termasuk didalamnya. Dari titik klasik sampai kita di saat ini terhubungkan melalui “garis tradisi”. Jadi saya tidak ingin menyebut tradisi untuk sesuatu yang pewarisannya telah pernah sekali terhenti. Misalnya, jika sebuah buku telah diturunkan selama ratusan tahun, jika isinya tidak perubahan, saya ingin menyebutnya “klasik”. Sebaliknya, kabuki yang telah mengalami perubahan besar selama diwariskan melalui darah daging adalah “kesenian tradisional’.

−− Maaf pak Kinoshita, salah pengertian!

Endo: Kalau berpikir seperti itu, wayang mungkin sampai kapanpun berupa “tradisi”. Sudah lama begitu. Di wilayah budaya India termasuk Indonesia, ada kecenderungan menjaga tradisi lisan. Guru saya mengatakan kepada saya bahwa ketika beliau pergi ke India, kepalanya hampir dipukul waktu mencoba untuk mengambil catatan waktu kuliah. “Apa-apaan ini kata-kata suci kok ditulis!” Diwariskan dengan cara mendengar dan diulang-ulang, begitulah mungkin caranya.

Kinoshita: Sebagai gambaran, ‘lisan’ Indonesia cenderung menjadi besar seperti permainan berita beranting sehingga banyak berubah, sedangkan karya ‘klasik’ Jepang yang di abadikan dalam bentuk tulisan yang dibukukan dianggap lebih pasti. Tetapi itu bohong. Saya membaca Rigveda, di situ dikatakan bahwa jika ada kesalahan satu huruf saja tuhan yang ada dalam kata-kata itupun akan hilang sehingga semua lisan dihafalkan dengan penuh konsentrasi untuk itu saya rasa jauh lebih tepat daripada sastra klasik Jepang. Meskipun Taketori Monogatari dan Heike Monogatari dapat dibaca di atas kertas, tetapi karena ada banyak buku yang berbeda tidak mungkin untuk membedakan yang mana yang asli. Yah, yang rumit karena tidak fundamentalis itu justru merupakan hal yang menarik dalam karya klasik Jepang, tetapi saat berpikir tentang seberapa jauh pembaca dapat menerima termasuk perbedaan antara klasik dan modern dan rasa aman karena bisa membaca berulang-ulang? Saya rasa “jiwa” dari karya itu lebih banyak bisa diwarisi melalui lisan.

Sebuah perayaan dan juga hiburan. Mungkin ini adalah dasar dari wayang.

−− Tadi dibicarakan bahwa kagura dapat diklasifikasikan sebagai seni pertunjukan daerah apakah misalnya “pertunjukan komersil” dan “perayaan”, bisa diambil sebagai kriteria?

Kinoshita: Tapi, jika ditanya apakah ada perayaan di kesenian klasik, jawabannya ada. Dan jika ditanya apakah dalam perayaan ada sisi hiburannya jawabannya juga ada.

Endo: Berbicara tentang “perayaan dan hiburan”, mungkin bisa dikatakan wayang merupakan hiburan sekaligus ritual. Karena ada paham animisme yang mendasarinya, hiburan itu tidak jelas untuk siapa tetapi belum tentu hanya untuk manusia. Sebuah pertunjukan yang didedikasikan untuk berbagai makhluk di dunia.

Kinoshita: Apakah itu bisa dibedakan antara para Dewa dan rakyat?

Endo: Mungkin sulit ya untuk memisahkannya. Pada dasarnya mengambil sikap “ditujukan untuk semua yang berada di situ.” Yang di sebut pengalaman ruang dan waktu itu ya seperti itu. Hiburan yang ditujukan untuk menghibur roh dan manusia.

−− (gambarannya seperti dalam film “Spirited Away” ?)

Endo: Sebuah ritual dan juga hiburan. Mungkin ini adalah dasar dari wayang.

Kinoshita: Dalam bahasa Jepang, ada etimologi dari kata yu (bermain) dari yugei (kesenian) yang diartikan “bercengkerama dengan Tuhan, bersentuhan dengan Tuhan”. Sebagai sampingan, dulu pernyataan Haruo Minami, penyani enka (kidung Jepang) yang terkenal bahwa “Tamu adalah Tuhan” dikritik sebagai pernyataan yang terlalu merendah pada konsumer tetapi arti sebenarnya adalah “Tamunya Tuhan. Saya mendedikasikan lagu ini untuk Tuhan”. Hiburan yang berupa perayaan yang bisa dinikmati bersama baik Tuhan maupun manusia. Saya rasa bahwa Haruo Minami ingin kembali ke dasar-dasar kesenian.

[Pertaranyaan 3] Apa itu memodernisasikan kesenian tradisional?

Endo: Memodernisasikan wayang adalah masalah besar telah dihadapi selama 50 tahun terakhir ini. Misalnya, wayang menggunakan bahasa Jawa sebagai bahasa pengantar yang dipakai saat pertunjukan, tetapi bahkan orang-orang Jawa, terutama generasi muda, makin banyak yang tidak menggunakan bahasa Jawa sehingga tidak mahir berbahasa Jawa. Dalam menanggapi perubahan situasi sosial tersebut modernisasi wayang sudah dibahas sejak awal tahun 1960-an. Sebagai percobaan diadakan pertunjukan menggunakan bahasa nasional bahasa Indonesia yang mendapat respon cukup bagus. Namun, terjemahan antara bahasa Jawa dan bahasa Indonesia yaitu dua bahasa yang berbeda dikhawatirkan akan merusak kedalaman arti yang dimiliki bahasa Jawa sehingga tidak memberikan hasil yang memuaskan hingga saat ini. Pada 1970-an dan 1980-an, adalah jaman keemasan bagi wayang yang merupakan kesenian penuturan, diikuti dengan berkembangnya TV visualisasi wayang pun secara bertahap mengalami kemajuan, dan berubah sedikit demi sedikit bersama perubahan jaman. Sejak awal 2000-an, pembongkaran wayang tradisional mulai dilakukan, berbagai pertunjukan yang terinspirasi oleh wayang bermunculan seperti rebung di musim hujan, sebagian besar mencoba berbagai kombinasi dengan bentuk asalnya dan menambah jenis wayang baru yang kesannya asal-asalan. Bertepatan dengan masa membingungkan inilah saya memutuskan untuk tinggal di Indonesia sehingga membuat saya terus berpikir, “apa itu wayang?”

— Apakah modernisasi asal-asalan seperti itu menjadi sasaran kritik?

Endo: Meskipun tidak menjadi sasaran kritik, pertunjukan yang tidak menarik cepat akan ditinggalkan, bukan? Kebanyakan hanya sekali. Di sisi lain, seperti Wayang Ukur yaitu dengan menggunakan bentuk boneka yang baru berupaya membuat terobosan mencoba menggabungkan pertunjukan dan teknik yang berbeda dengan yang sudah ada. Namun, pekerjaan ini sangat tergantung pada pendirinya yaitu Sigit Sukasman, sehingga Sukasman meninggal dunia tahun 2009, ada kesan bahwa niat itu tidak diteruskan dengan baik. Yang paling menarik Sukasman adalah tidak merubah gaya secara asal-asalan, tetapi dengan berdasarkan konteks berusaha mencari transformasi baru. Di antara sistem nilai yang sudah ada, tidak takut untuk menorehkan pisau pada bentuk boneka yang sudah punya bentuk sendiri. Dia menuntut reformasi dalam teori yang kuat, kemudian dia berpikir bahwa boneka ini lahir melalui latar belakang masanya, jadi pada jaman modern ini bisakah lahir kembali seperti ini.

Kinoshita: Itu adalah masalah “kebutuhan” ya. Saya rasa itu tergantung berapa banyak kebutuhan pembuatnya. Ungkapan yang keluar dari seniman yang memiliki dasar yang kuat dan kepercayaan diri bahwa “inilah bentuk untuk masa modern” tidak mudah diabaikan, dari situ kritikus dan penonton bisa memberikan pendapat tentang hal itu, sehingga diskusi bisa berkembang. Jadi, pertunjukan yang tidak diperlukan, pada dasarnya tidak ada gunanya. Kecintaan ketergantungan pada kesenian saja belum cukup. Tentu saja, hal itu diperlukan, tetapi pada saat yang sama perlu dukungan teori yang meyakinkan dan berdasarkan alasan obyektif. Apakah sebuah karya dapat dibahas sebagai karya yang tidak hanya sebagai produk orisinalitas dan imajinasi artis? Atau apakah bisa bertahan sebagai karya yang sebagai alas untuk dapat membangun diskusi baru di atasnya? Itu bisa dijadikan salah satu kriteria.

Endo: Meskipun kegiatan Sukasman mengundang argumen kontroversial, saya rasa ada banyak hal yang bisa dilihat dalam cara pegembangan bentuk pementasan. Dia sendiri telah menyusun ratusan boneka baru, termasuk beberapa karakter utama yang ditetapkan tidak boleh diubah. Ketika saya melihat boneka itu, bagi saya tampak tidak hanya cantik, tetapi juga mencerminkan bentuk evolusi berdasarkan situasi sosial dan sejarah Jawa. Ketika pengaruh Sukasman dapat sekilas terlihat pada pertunjukan yang disebut tradisional, perubahan itu sangat menarik.

Karena punya sudut pandang eksternal, jadi mampu untuk membawa perubahan.

Kinoshita: Saya rasa ada penilaian obyektif yaitu salah satu kriteria apakah upaya modernisasi berhasil dilakukan atau tidak adalah apakah hal itu sedikit banyak mempengaruhi aslinya atau tidak?. Pengubahan tradisi, pengubahan yang meninggalkan jejak di situlah nilai upaya modernisasi yang sebenarnya akan terukur.

Endo: Ya betul, dalam kasus Sukasman yang besar pengaruhnya adalah bahwa dia sendiri bukan dalang. Karena punya sudut pandang eksternal itulah, maka bisa membawa perubahan yang mengejutkan.

Kinoshita: Itu salah satu kuncinya ya. Jika mengulas sejarah modern kesenian Jepang, orang yang bisa merubah kesenian dari dasarnya adalah orang yang memiliki mata dari luar. Dalam drama balada boneka (bunraku), Toyotake Kotsubodayu  kedua yang nantinya berganti nama menjadi Yamashirono Shojo adalah seorang yang melakukan reformasi karena orang ini telah mengubah konsep dalam menceritakan kisah gidayu sebelumnya. Dia berasal dari Tokyo sedangkan bunraku sendiri berkembang di Osaka. Jika berbicara tentang kamigata (Osaka) rakugo, tidak ada orang sekalin Beicho Katsura. Meskipun orang yang berjasa dalam mengangkat kembali kamigata rakugo, tetapi karena Beicho berasal dari Himeji selalu dikritik seperti “apa dibiarkan kamigata raguko dengan aksen seperti itu dijadikan patokan?” atau ” tidak ada bau dan gaya ala Osaka.” Tapi, itu sebabnya kita bisa melangkah ke modifikasi script yang berani.

Endo: Posisi Sukasman “sebagai orang luar” sangat jelas, dia bukan dalang, apalagi seniman tradisional. Saya rasa karena posisinya yang bebas itulah bisa berhasil mereformasi wayang sebagai obyek dengan menggunakan teknik pertunjukan baru, dalam mendesain boneka dan memodifikasi pertunjukan.

Baginya, dalang hanyalah merupakan salah satu elemen dalam pertunjukan wayang. Dia sebagai sutradara mempunyai pedoman yang jelas.

Kinoshita: Dalam “Takechi Kabuki” ada orang yang terkenal bernama Tetsuji Takechi juga seperti itu. Mungkin seperti Sukasman.

Endo: Takechi Kabuki itu apa?

−− (Pak Endo Good job!)

Kinoshita: Pertunjukan kabuki yang disutradarai oleh Tetsuji Takechi pada tahun 1950-an disebut “Takechi Kabuki.” Sebenarnya, ada banyak karya yang diikutinya sebagai pengawas tanpa sebutan sutradara dan tanpa kredit, menurut pengamatan saya penelitian akademis dan evaluasi tentang Takechi Kabuki sangat terlambat. Dan, Tetsuji Takechi itu, dia bukanlah seorang seniman tradisional maupun pemain kabuki. Dia “sutradara kabuki” Tetsuji Takechi adalah satu-satunya yang menyutradarai kabuki. Pada masa itu tidak bisa dibayangkan orang luar menjadi sutradara kabuki sama sekali dan konsep sutradara pun masih belum biasa. Saya rasa itu adalah revolusi.

Endo: Oh begitu… personal yang sangat menarik.

Saya rasa hampir tidak ada contoh kasus ini.

Kinoshita: Tetsuji Takechi membuat berbagai upaya untuk membangun posisinya sebagai sutradara kabuki, serta menghadapi berbagai masalah berat di sana, bagaimana dengan Sukasman apakah tidak ada konflik saat memasuki komunitas kesenian wayang?

Endo: Tampaknya pada awalnya dalang dari istana raja menentangnya dengan keras. Tapi saat dia mencoba untuk membuat wayang baru adalah ketika kesadaran krisis kelangsungan hidup wayang mulai muncul, dan ada orang lain yang juga sadar akan krisis tersebut. Saya rasa karena dorongan jaman, kesadaran akan krisis, dan cinta yang mendalam pada wayang yang menjadi kekuatan pendorong mengusir friksi.

Kinoshita: Takechi Kabuki juga sama. Pada Tahun 20-an Showa (1945-1955), tak lama setelah Perang Dunia II, ada rasa khawatir kabuki akan hilang seperti itu, terutama ketika masa Kansai Kabuki dalam bahaya. Memang mungkin memodernisasikan kesenian tradisional tidak dapat tercapai tanpa rasa krisis. Dengan mengumpulkan orang-orang yang tidak merasakan rasa krisis lalu menyerukan “ya, ini kontemporer” pun tak ada artinya. Karena di situ tidak ada perlunya.

Endo: Aku rasa begitu. Dan berpikir tentang memodernisasikan kabuki berarti me-link langsung kegiatan Kinoshita Kabuki.

Kinoshita: Bagi saya, saya pikir pada dasarnya Kinoshita Kabuki adalah satu-satunya … ….

Endo: memang tidak salah kalau satu-satunya!

Kinoshita: Terima kasih banyak. Tapi, itu juga, hanya “celah industri” (tertawa). Karena tidak ada contoh lainnya saja. Karakteristik Kinoshita Kabuki sebagian besar tiga, 1) pemainnya bukanlah aktor kabuki. 2) Membaca teks klasik dengan gaya kontemporer. Sejauh ini selain Kinoshita Kabuki pun ada grup atau karya yang melaksanakannya. Namun, 3) dengan mengganti sutradara untuk setiap karya saya bertujuan untuk menciptakan kelompok kerja yang beragam dan menyebarkannya. Saya rasa hampir tidak ada yang mempunyai ketiga item yang lengkap ini. Dalam arti, sangat mirip dengan Takechi Kabuki, di mana ada beberapa sutradara, tapi berbeda karena di sana diperankan oleh aktor kabuki.

−− Apakah tiga poin yang Anda sebutkan tadi sebagai pemikiran pak Kinoshita dalam “memodernisasikan kabuki“?

Kinoshita: Dalam memodernisasikan kabuki pada tahun 2016 ini, ya betul. Ini mungkin akan berubah lagi dalam sepuluh tahun, dan itupun berbeda dengan modernisasi yang Tetsuji Takechi jalankan pada tahun 20-an Showa. Saya senang jika Anda bisa melihatnya sebagai “solusi” sementara dalam sudut pandang “metode ini yang efektif jika mau memodernisasikannya sekarang”.

Tidak baik juga menjadi maniak, juga sangat diperlukan antena untuk mencoba mengirimkan karya pada masyarakat umum, dan dalam rangka untuk membuat aktivitas yang berakar, perlu untuk memiliki sifat dan fungsi seperti salon … … ditambah lain-lainnya, dan karena sampai sekarang saya telah membuat sebuah kelompok disebut Kinoshita Kabuki, termasuk ketiga karakteristik yang tadi, bisalah disebut bahwa inilah cara memodernisasikan kabuki yang saya pikirkan saat ini.

Mengenai penelitian di Indonesia pada September 2016

−− Jadwal perjalanan semakin dekat. Apa harapan Anda berdua sekarang?

Kinoshita: Ada banyak harapan, tetapi pada saat yang sama, saya juga merasakan ketakutan yang sangat kuat. Singkatnya, saya pikir segala sesuatu akan terlihat segar. Sejarah, budaya, kota, makanan…… saya takut menjadi manja pada kesegaran semuanya. Orang asing yang berjalan di Gion di Kyoto akan merasa “saya sekarang sedang menonton tradisional Jepang”, tetapi saya merasakan “Kyoto” di tempat yang lebih dalam. Orang asing di tempat wisata atau suvenir negara lain merasa “tradisi yang murah” kadang-kadang salah pengertian. Di Indonesia sayapun pasti akan begitu. Itu menakutkan. Jadi saya mau curiga pada semuanya. “Saya sekarang terkesan, apa benar-benar terkesan dengan ini?” Saya membayangkan itu adalah pekerjaan yang sangat melelahkan, tapi setelahnya yang tinggal pasti sesuatu yang sangat dalam artinya.

Endo: Sebaliknya, saya ingin melihat dengan penuh harapan dan mata segar. Saya tidak tahu….. apakah bisa kembali dengan mata menjadi turis…… saya tidak tahu seberapa jauh, tapi saya ingin mencoba untuk melihat dengan mata segar dan dengan cara yang berbeda dari pandangan waktu saya tinggal di Indonesia. Selain itu, saya ingin semua orang yang menyertai penelitian ini untuk tidak lupa melihat dari selangkah kebelakang. Lagipula, ketika Anda mencoba untuk mempelajari mengenai kesenian itu tidak cukup hanya melihat kesenian saja. Hal ini diperlukan untuk memandang secara luas masyarakat itu sendiri. Bagaimana memahami Indonesia saat ini dan bagaimana untuk menangkapnya. Melihat kesenian dengan sudut pandang itu akan dapat melihat beberapa jenis sudut pandang untuk pertama kalinya. Saya yakin bahwa ini akan menjadi pilar besar survei ini. Dengan melihat tidak hanya kesenian tetapi dengan melihat kehidupan masyarakat, warisan sejarah, dan berbagai budaya lainnya, untuk pertama kalinya akan berhadapan dengan kepadatan kesenian tradisional dalam arti yang sebenarnya. Saya berharap dengan sangat Anda bisa merasakan hal itu.

[Jejak Kaki] Diskusi Yu Endo dan Yuichi Kinoshita

2016.08.01