Bab Pertama Arti “Berhadapan dengan negara lain”

“Pokoknya kami ingin proyek yang mengarah ke <masa depan>. Proyek ini bertujuan mengusulkan <keberadaan tradisional dalam dunia modern>. Melalui penelitian dan dialog untuk sumbu perbandingan antara Jepang dan Asia Tenggara yang berkesinambungan dan tidak hanya untuk sementara. Untuk sementara selama dua tahun. Mungkin tidak ya untuk bersama-sama selama dua tahun. Sebagai sebuah proyek, perlu untuk akhirnya mengasilkan satu bentuk hasil akhir, apakah itu berbentuk pertunjukan atau event atau buku yang dari situ dipikirkan bersama-sama.”

Saya menerima pembicaraan dari Asia Center mengenai hal ini pada akhir tahun 2015 pas waktu senja saat salju hampir turun. Dua orang ini yaitu Ibu. Maeda, Bpk. Endo bersusah payah datang mengunjungi saya ke Kyoto, dan dengan antusias membicarakannya. Saya langsung menerimanya. Bukan hanya karena kepribadian kedua orang tersebut, dan bukan hanya karena saya terpikat pada gairah mereka terhadap pekerjaan mereka. Tetapi bagi saya, ini merupakan “perahu untuk menyeberang”, karena memang kesempatan ini datang pada waktu yang tepat. Selama ini minat dan perhatian dan saya hanya tercurah pada “Jepang”. Sejak kecil saya menyukai kesenian tradisional Jepang yang berkembang menjadi pekerjaan saya yaitu membawa repertoar tradisional kabuki ke dalam teater modern sehingga dalam kehidupan saya baik hobi maupun pekerjaan hanya ada satu warna yaitu “Jepang” tanpa ada waktu luang untuk memikirkan negara asing lainnya, lagipula saya tidak begitu merasakan keharusan untuk itu. Tetapi akhir-akhir ini saya merasa telah sampai di persimpangan di mana saya harus memperbaiki sikap ini.

Sebulan sebelum bertemu dengan kedua orang dari Asia Center, saya pertama kalinya menginjakkan kaki di Okinawa. Saya diundang untuk mengadakan sesi diskusi dengan Bpk. Michihiko Kakazu, yaitu orang yang diharapkan dalam dunia tari Ryukyu dan juga sebagai sutradara kesenian dari Teater Nasional Okinawa, kami membicarakan tema “karya klasik yang hidup di dunia modern -memikirkan mengenai kesenian tradisional dan teater modern” selama dua jam. Itu saja sudah sangat berarti bagi saya tetapi atas kebaikan penyelenggara saya bisa leluasa tinggal di sana selama dua malam tiga hari sehingga pada waktu luang bisa mendapat kesempatan berkunjung ke tempat bersejarah dan kesenian tradisional di pulau utama Okinawa dan walaupun cara penyampaiannya sangat biasa tetapi bagi saya cukup memberi culture shock.

Di Okinawa ada kesenian tradisional yang populer yaitu “kumiodori“. Ini adalah drama tari yang merupakan gabungan antara musik klasik dengan tari tradisional di Ryukyu, bisa dikatakan sebagai “noh ala Okinawa”. Demikian selama ini saya akan menerangkan dengan mudah tanpa berpikir panjang. Alangkah bodohnya saya. Memperkenalkan budaya pada orang lain menggunakan istilah “ala….” adalah hal yang tidak sopan. Yang ada hanya sekadar yang mirip dan populer tetapi dalam kenyataannya tidak ada penjelasan yang betul dan yang terpenting hal ini tidak fair. Kita sendiri tidak mau bergerak dari tempat kita berdiri, sedangkan kebudayaan orang lain yang dipaksa mendekat, dan dimudahkan dengan mengatakan “ya, ya, seperti ….yang ada di kita ya”, Karena ada banyak kemalasan dan itu membuat lebih gampang untuk menyisipkan label tanpa peduli supaya mudah dimengerti, tetapi itu juga bisa dianggap semacam tindakan kekerasan … Demikianlah, kumiodori yang saya lihat di Okinawa bisa membuat saya berpikir seperti itu karena sangat mengejutkan dan satu-satunya yang mempunyai sinar yang mempesonakan. Pertama, begitu lihat hati saya terpikat pada kekompleksan drama klasik Ryukyu ini. Gerakan kaki para pemain yang pada dasarnya digeser dan tata ruang panggung memang mempunyai persamaan dengan noh.
Namun, pembawaan aktingnya di beberapa bagian mirip kyogen dan gerakan lengan saat membawa kipas dan cara menekuk tangannya seperti tari kabuki.Gerakan leher, cara merubah ekspresi wajah (muka) agak mengingatkan saya pada opera China, pada dasarnya penggunaan warna dasar kostum yang bertaburan warna warni mengingatkan pada daratan jauh. Gerakan menurunkan pinggang yang sangat rendah dan membuka kakinya ke arah luar, serta berjalan dengan membuka kaki lebar-lebar memberi kesan bentuk badan yang khas Asia Tenggara seperti yang bisa dilihat pada misalnya pertunjukan tradisional Thailand khon…… Sebuah <drama tari hibrida> yang benar-benar cocok untuk <pulau> yang sejak lama memiliki perdagangan dengan Busan, Fuzhou, Annan, Melaka, Jawa, Luzon, Satsuma, Hakata, dll dan telah berkembang sebagai basis perdagangan penting di Asia. Walaupun begitu tidak berarti tidak punya keaslian (Pada dasarnya, dengan penggabungan berbagai elemen itu sendiri cukup bisa dianggap penciptaan). Walaupun pengaruh kesenian dari negara lain semua dihilangkan tetap akan tertinggal kekhasannya sendiri. Itu adalah ritme di antara bahasa dan musik. Kelembutan suara yang dimiliki bahasa kuno Ryukyu dan intonasi yang meliuk bergelombang. ―Permainan alat musik kuno Ryukyu seakan mengulur waktu menghasilkan melody yang mengapungan. Ritme yang mengalun dalam panggung bergema seakan mengejawantahkan waktu yang abadi yang dimiliki Okinawa. Saya rasa hal ini tak ada duanya. Suara ombak yang datang dan pergi, suara angin yang bertiup entah dari mana, menjadi ritme yang menyuarakan alam Okinawa. Dan sejarah pulau ini. Dari masa Ryukyu kuno hingga masa kini, terus menerus menghadapi kebijaksanaan diplomatik yang sulit, manuver politik, eksploitasi di luar batas dan kekerasan, kemudian penjajahan. Alangkah banyaknya pulau ini menelan kesulitan. Saya merasa bahwa dengan ritme drama yang tenang itu bisa membungkus semua kesulitan tersebut. Kelembutan dan kekerasan porosnya mampu membungkus kesulitan apapun. Gambaran tentang pulau yang telah berusaha untuk mempertahankan diri saat menerima pengaruh dan tekanan dari negara-negara asing baik dari aspek positif maupun negatif ini seakan muncul dalam bentuk miniatur dalam kinerja keseniannya. Sebelumnya, apakah saya pernah melihat pertunjukan seni Jepang dari sudut pandang seperti ini? Noh, kyogen, bunraku, kabuki……Semua sudah pernah saya lihat puluhan kali, mungkin karena terlalu dekat, walaupun mungkin saya bisa mengatakan kebaikan atau keburukan dari pertunjukan itu satu per satu, tetapi saya tidak sampai terpikir tentang <bentuk negara> yang ada di balik kesenian tradisional. Tanpa mau melihat itu, apa arti tradisional? Apa arti klasik?

Apa yang tidak bisa saya lihat di Jepang kenapa bisa di Okinawa? Hal ini tidak lain karena bagi saya Okinawa secara budaya adalah <negara asing>. Hal itu hanya mungkin jika ada kesegaran dan sedikit kebebasan saat orang lain memandang budaya yang berbeda. Dengan kata lain, itu adalah saat ketika saya menyadari keterbatasan ketika “berpikir tentang kesenian tradisional Jepang di dalam Jepang”. Jika memungkinkan, sekali saja, saya ingin berhubungan dengan kesenian Jepang dan mengamati bentuk negara ini sebagai orang asing. Untuk itu harus ada sudut pandang baru. Untuk itu, perlu untuk melihat kembali kesenian di Cina, Korea, dan Asia Tenggara yang tentunya memiliki pengaruh kuat pada kesenian Jepang. Undangan dari Asia Center yang saya sebutkan di awal datang tepat ketika keinginan seperti itu muncul.

Baiklah, memang mudah mengatakan <melihat negara lain> tetapi saya rasa hal itu tidaklah mudah. Sebelumnya saya menggunakan kata <posisi sebagai orang asing> ini mirip dengan <posisi sebagai turis> tetapi ada perbedaan besar. Jika untuk yang kedua, cukup memuji hanya bagian positif dari negara lain, atau jika terkesan dengan kelangkaannya, tetapi jika ingin sebagai yang pertama, perlu siap untuk menerima bagian negatif dari negara tersebut. Hal itu tidak semuanya menyenangkan. Tetapi walaupun begitu, juga bukan berarti menjadi kasihan terhadap negara lain. Rasa kasihan kadang-kadang berubah menjadi “rasa superioritas”, sehingga tanpa sadar negara lain ini akan dianggap sebagai yang lemah. Bahkan, saat membandingkan budaya negara lain dengan negara sendiri, sikap seperti mengakui keaslian yang mudah seperti “budaya Jepang itu sangat bagus!” adalah sama sekali tidak pantas dan merupakan hal yang memalukan. (Akhir-akhir ini, yang aneh, saya merasa kecenderungan itu semakin kuat di Jepang apakah ini hanya perasaan saya …?).

Berarti, bagaimanapun juga, baik negara sendiri maupun negara lain memiliki hubungan paralel, tidak ada yang berada di atas atau di bawah satu sama lainnya, bahu membahu dan tidak ada artinya tanpa saling memandang satu sama lainnya. Dan, dialog yang berlangsung di antara keduanya, harus menjadi salah satu yang bermanfaat bagi kedua belah pihak. Hal ini sangat mudah dikatakan, tapi cukup sulit benar-benar dipraktekkannya……. Meskipun ketika proyek dengan Asia Center sudah dimulaipun, tetapi pikiran saya masih belum fokus dan masih gundah saat itu secara kebetulan saya menemukan buku di toko buku yang saya masuki. Tepatnya, dapat dikatakan bahwa saya menemukannya lagi. Buku itu sebuah koleksi kritik oleh Muneyoshi Yanagi yaitu seorang pemimpin gerakan kesenian rakyat, “40 Tahun Kesenian Rakyat” (Iwanami Bunko), yang dulu pernah saya baca. “Kalau tidak salah di dalamnya ada kalimat yang ditujukan kepada negara lain……”

Sambil mengandalkan memori, saya menelusuri halaman demi halaman. Kalimat berjudul “Surat untuk teman Korea” itu ditulis pada tahun 1918 sebagai tanggapan terhadap gerakan kemerdekaan Korea pada waktu itu (insiden 1 Maret), tertulis “Sebuah surat cinta membara untuk negara tetangga”.
Bersaman dengan itu, juga merupakan teori budaya Korea yang sangat baik dan juga teori apresiasi seni.

Yanagi menyoroti sejarah pertukaran panjang yang telah dijalani Jepang dan Korea, sambil secara dingin melihat situasi saat ini bahwa kedua negara telah jatuh ke dalam hubungan “penjajah / dijajah,” mengambarkan keramik dan porselen Korea seperti di bawah ini:

“Garis yang seperti mengalir sangat panjang itu merupakan simbol penyampaian jeritan hati yang tanpa batas. Dendam dan kesedihan serta kekaguman yang sulit untuk diungkapkan diam-diam mengalir sepanjang garis. Suku bangsa itu menyalurkan ekspresi hati nurani melalui garis. Bukan berupa bentuk, bukan berupa warna, tetapi garislah cara yang paling cocok untuk menyampaikan jeritan rasa tersebut. Jika seseorang tidak dapat memecahkan rahasia garis ini, ia tidak dapat masuk ke dalam hati Korea. Pada garis itu tertulis sejarah berbagai kesedihan, harapan dan penderitaan hidup. Keindahan yang tak terlukiskan terkandung dalam ketenangan itu merupakan isi hati Korea yang ditransmisikan hingga kini. Setiap kali saya melihat porselen di meja saya, saya merasa seakan air mata kesepian berlinang di dalam grasir yang tenang itu.”

Karena merupakan kalimat yang menarik untuk terus dikutip, saya hentikan di sini, tapi pada kenyataannya setelah ini, Yanagi berturut turut membicarakan suara tanpa suara porselen. Hal itu benar-benar indah. Itu adalah suara dari harapan tukang tembikar yang dipercayakan kepada porselen, suara dari orang-orang tertindas, suara protes terhadap faksi independen Jepang, suara lembut dari negara Korea itu sendiri berbicara kepada  negara saudara yaitu Jepang. Ada berbagai macam suara, Yanagi mendengarkan satu demi satu dari porselen, dan terus menulis seperti itako atau dukun.

Yanagi tidak pernah berbicara dari sudut pandang negara penjajah. Juga tidak merendahkan penjajahan. Tidak menghina dan menyalahkan pemerintah Jepang, juga tidak berusaha menegakkan semangat keadilan dan berpartisipasi dalam gerakan kemerdekaan. Sementara semaksimal mungkin menghormati <martabat> negara sendiri dan negara lain, juga berusaha berhubungan secara <sejajar>. Berusaha mendengar suara negara lain.

“Keindahan seni selalu melampaui batas negara. Disana selalu ada tempat pertemuan dari hati ke hati. Di situ ada sentuhan kebahagiaan manusia. Selalu terdengar suara yang berbicara kepada hati. Kesenian menghubungkan dua hati. Di situ adalah gedung peribadatan cinta kasih.”

Orang dari budaya yang berbeda yang sulit untuk saling memahami dengan mengintervensi seni dapat secara mendalam berdialog dengan sejajar. Yanagi menyatakannya  sebagai “gedung peribadatan cinta kasih”. Dengan mencoba untuk mendengarkan suara tanpa suara dari kesenian negara lain, dijelaskannya merupakan sosok misalnya, “seperti sedang mengheningkan cipta.”

Itulah “rahasia” untuk berhadapan dengan negara lain.

Melalui proyek ini, saya ingin suasana hati yang selalu mengheningkan cipta. Dan walau sekecil apapun, walau seburuk apapun, saya ingin menemukan gedung peribadatan dan sangat berharap dapat memasukinya.