[Deg-degan Tokimatsu] Kesenian dan Budaya Indonesia – Jawa

Kami menonton pertunjukan seni tradisional Indonesia menggunakan bayangan boneka yang disebut “Wayang Kulit” sebanyak 4 kali yang masing-masing dalam tipe yang berbeda. Ini adalah laporan tentang keadaan kelas di universitas yang mahasiswanya bercita-cita untuk menjadi dalang dan sendratari “Ramayana Ballet” yang awalnya diciptakan berdasarkan gerakan boneka wayang.



1.
Pemandangan pada jurusan dalang di Institut Seni Indonesia Surakarta

2.
Panggung sebenarnya dibuat lebih sederhana. Di kelas dipasang layar.
Suasananya seperti di  universitas seni di Jepang.

3.
Mahasiswa yang mewakili ada di depan. Murid-murid sambil melihat berlatih mengikutinya dengan gerakan yang sama.

4.
Guru yang melatih sambil menabuh gamelan. Dia memberi tanda dengan suara ketika ingin mengajar poin tertentu.

5.
Para muridpun bisa menabuh gamelan.

6.
Terdengar berbagai macam suara dari ruangan lain.



1.
Wayang Kulit

2.
Dalang
Seorang diri dalam 7 jam menangani semua karakter tanpa istirahat. Dengan kemampuan bercerita, bernyanyi, berperang, membuat orang tertawa dan juga ketrampilan berakrobat. Dalam panggung (dunia) ini seakan dia seorang dewa.

3.
Pesinden
Para penyanyi koras wanita. Merupakan bunga diantara rombongan laki-laki. Para wanita inipun terus menerus selama 7 jam sehingga diatas panggung mereka dandan dan makan. Bantal tempatnya duduk berupa kantong yang berisi bermacam-macam.

4.
Ransum makanan datang beberapa kali.
Lelaki setengah baya mengambil foto dengan kamera yang kelihatan mahal.
Makin larut malam di sana-sini orang-orang tidur di tempat.
Beberapa orang ada yang menonton sambil naik di atas panggung.

5.
Di sini ada tempat duduk

6.
“Sebelah kiri panggung adalah tempat duduk khusus yang bisa melihat permainan tangan dalang secara rinci” (oleh mas Endo)

7.
Anak muda yang sepertinya sedang meneliti wayang

8.
Pemain gong yang dikelilingi gong seperti sedang kena hukuman, lucu.

9.
Nilai 100 untuk reaksi para penabuh.
Ada yang seperti drum set
Memukul-mukul pundak, ngobrol, smart phone, rokok, santai (di rumah ya?!)

10.
Penabuh gamelan
Para penabuh yang benar-benar bebas. Selain saat bagiannya menabuh semua menghabiskan waktu dengan santai (di atas panggung). Tetapi ketika saya sangka sedang berbincang-bincang, tiba-tiba mulai menabuh tanpa salah dengan sangat ahlinya yang merupakan pertunjukan spektakuler! Mereka menjadi orang-orang tua yang mengagumkan!
Selama 7 jam pertunjukan saya rasa mereka adalah tamu yang paling menikmati wayang lebih dari yang lain.



1.
Sendratari Ramayana

2.
Berlatarbelakang warisan dunia candi Prambanan yang menjulang tinggi.

3.
Gamelannya juga basah kuyup
kasihan
Panggung batu yang mengkilat itu licin

4.
“Kasihan!” “Basah kuyup!?”
Para penonton di bawah naungan payung hanya bisa menonton.

5.
Di atas kursi batu ada bantalan duduk.

6.
Seraya mendapat siraman hujan di musim hujan, kami menonton di panggung terbuka. Pertunjukan tetap dijalankan tanpa pembatalan! Wayang yang diperankan manusia yang sebenarnya (kehidupan nyata !!). Tanpa dialog, gerakannya bagaikan boneka dengan menitik beratkan ke persendian. Kostumnya mewah dan secara pribadi saya menyukai penampilannya. Jika harinya cerah, saya mau nonton lagi sambil memakai teropong.

7.
Kesenian tradisional Indonesia setidaknya yang saya nonto di Jawa sama sekali tidak kaku. Saya merasa bahwa keberadaan kesenian ini bukan sesuatu yang menyulitkan tetapi lebih santai dan banyak tawa serta mudah didekati. Saya rasa tidak ada jarak antara pelaku dan yang menontonnya.

Gallery

[Jejak Kaki] Penelitian Lapangan di Indonesia

2016.09.27