[Deg-degan Tokimatsu] Kesenian dan Budaya Indonesia – Bali

Bali adalah pulau yang memiliki budaya unik. Suasana di Bali yang banyak umat beragama Hindu sangat berbeda dengan di pulau Jawa yang banyak umat Islamnya. Karena kebetulan bertepatan dengan masa yang banyak upacara, sehingga biasa ikut serta dalam odalan desa, menonton drama tari komedi yang disebut Prembon di pura, dan makan di warung.



1.
Cak Rino, tari kecak kreasi baru

2.
Kecak kreasi baru yang hanya dipertunjukkan pada bulan purnama dan bulan baru. Di panggung terbuka dengan cahaya hanya dengan cahaya obor. Tidak ada skenario tidak pula BGM, yang ada hanya suara “Cak cak” dari sekitar 50 laki-laki. Berdesakan di atas panggung.

3.
Mendepak bola api dengan kaki telanjang. Cukup dekat di depan mata.

4.
Anak-anak juga ada.

5.
Penontonnya kebanyakan orang asing
Mereka sangat tertarik

6.
Meskipun saya rasa merupakan sebuah upacara, tetapi unsur “show” nya cukup kuat yang dipertunjukkan untuk wisatawan.
Irama / nada “Cak” yang dibagi menjadi bagian-bagian rumit bercampur dengan suara serangga dan angin, merupakan dunia misterius.



1.
Prembon

2.
Ah ini yang kami lihat waktu grup studi!

3.
Penabuh gamelan
Dibunyikan mengikuti gerakan pemain. Pengendang ini rasanya seperti master konser. Terdengar sangat berbeda dari yang Jawa!

4.
Seorang putri dan pembantunya yang dimainkan laki-laki tua yang intens
Suasananya seperti dialog lawak

5.
Ada anak yang nonton di atas panggung

6.
Di bagian ini tempat sampah ya

7.
Di samping panggung pun penontonnya banyak

8.
Turun ke tempat penonton dan mengajak penonton biasa naik panggung!

9.
Mas Sonoda menjadi target
“Hahaha, memang wisatawan jadi sasaran empuk”
Setelah itu mas Endo yang naik ke atas panggung.

10.
Penontonnya hampir semua penduduk lokal. Bisa dirasakan bahwa orang dewasa maupun anak-anak menikmatinya.
Sangat menakjubkan!! Pemandangan ini seperti seluruh keluarga menonton TV.



1.
Festival di pulau Bali

2.
Pada saat festival seperti “Galungan” dan “Kuningan” (Obon di Jepang) ada banyak hiasan seperti ini di depan rumah di desa. Seperti terbuat dari bambu, yang bentuknya berbeda setiap keluarga. Dari yang sederhana hingga yang megah seperti menara. Di rumah di mana pengantin wanita datang didirikan 2 buah.

3.
Pakaian adat Bali

4.
Banyak menggunakan kain yang sangat modis
Alat sembahyang dan persembahan
Kebaya, atasan yang menerawang dari brokat
Selendang
Anak-anak dan orang dewasa berpakaian sama
Sarung

5.
Banyak yang membawa tas seperti ini
Kemeja putih
Selendang
Saput
Sarung, selembar kain besar yang dililit

6.
Sebuah dekorasi bernama penjor yang mewakili gunung suci yang disebut Gunung Agung. Di kaki penjor ada kotak untuk meletakkan segala persembahan untuk dewa yang dijejali seperti buah, roti, bunga, padi, masakan sampai kantong kue.
“besar”

7.
Persembahan untuk arwah jahat ditempatkan di tanah.
Karena diletakkan di tempat orang berjalan jadi diinjak dan penyok. Tapi tampaknya tidak mengapa.
Semua hasil buatan tangan ibu di rumah!



1.
Cara bersembahyang
Agama Hindu Bali

2.
Tangan dan wajah disucikan dengan asap dupa

3.
Bersembahyang dengan menjepit bunga di antara jemari.
Bunga berwarna-warni putih, pink, kuning, merah, biru sebagai alat sembahyang!!

4.
Bunga yang sudah dipakai dipasang di kepala.
Laki-laki memasangnya di udeng atau telinga.
Wanita di rambutnya (tidak ada wanita yang berambut pendek)

5.
Air suci dicipratkan ke kepala
Dengan seperti seikat bambu

6.
Air suci yang ditadahi di telapak tangan, diminum, dan diusapkan ke kepala.
Air suci itu rasanya seperti teh melati.

7.
Menerima beras lalu ditempelkan ke dahi dan ke tulang selangka.
Lalu diusapkan ke kepala!!

8.
Langsung pulang ke rumah begitu saja sehingga seharian beras dan bunga berjatuhan dari badan.
Terus ditempeli beras…

9.
Di Bali sehari-hari banyak bersembahyang, sehingga terasa hidup di dekat Tuhan. Oleh karena itu, saya pikir tradisi yang terkandung dalam festival berakar dalam kehidupan orang-orang sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari yang dipertahankan.

Gallery

[Jejak Kaki] Penelitian Lapangan di Indonesia

2016.09.27